Berita Internasional

Klik tahutan ini untuk melihat berita internasional terbaru.

Berita Nasional

Klik tahutan ini untuk melihat berita internasional terbaru.

Berita Daerah

Klik tautan ini untuk melihat informasi terbaru yang terjadi di daerah.

Liputan Khusus

Klik tautan ini untuk membaca liputan-liputan khusus dari de Berita.

Lowongan Kerja

Klik tahutan ini untuk memeriksa lowongan kerja yang cocok untuk Anda.

Selasa, 06 November 2018

Ma’arif NU DI Yogyakarta Selenggarakan Diklat Penguatan Kepala Sekolah


SLEMAN--Bagus tidaknya sebuah sekolah, bergantung kepada kualitas kepala sekolah. Oleh karena itu, kualitas kepala sekolah perlu terstandar dan kepala sekolah harus bisa mengikuti perkembangan zaman.

Hal tersebut disampaikan Drs. H. Masharun Ghazalie, M.M. pada pembukaan Diklat Penguatan Kepala Sekolah di Aula Ki Mangun Sarkoro, LPMP DI Yogyakarta (5/11/2018). Lebih lanjut, Pembina LP Ma’arif NU DI Yogyakarta itu mengungkapkan, sebenarnya, diklat penguatan kepala sekolah sudah mulai dibicarakan sejak dua tahun lalu, tetapi baru sekarang bisa terlaksana.

Hal senada disampaikan ketua panitia diklat, Dr. Tadkiroarun Musfiroh, bahwa ada empat hal yang melandasi pelaksanaan diklat ini, pertama, idealnya seorang kepala sekolah bukan ditunjuk tapi diseleksi, diberi bekal, dan diuji sehingga saat mengemban amanat, seorang kepala sekolah tahu persis harus berbuat apa, bertujuan apa, dan bagaimana output-outcomesnya. Tugas sebagai kepala sekolah adalah sebuah project yang memerlukan input, metode, alat-media-fasilitas,  dan evaluasi yang terstandar.

Kedua, Permendikbud 8 tahun 2018 menyebutkan kepala sekolah bersyarat S1, tersertifikasi, minimal 6 tahun aktif mengajar, dan di bawah usia 56 tahun, pengalaman manajerial dua tahun, Penilaian prestasi kerja dua tahun baik, setara 3C, dan sehat jasmani rohani dengan tes, serta bersih kasus hukum. Hal itu artinya, seorang kepala sekolah harus memenuhi stage, berprestasi, dan bersih di mata hukum .

Sekretaris LP Ma’arif NU DI Yogyakarta itu menjelaskan, Permendikbud 8 juga menyebutkan bahwa kepala sekolah adalah guru profesional dengan keahlian memimpin dan mengelola satuan pendidikan. Jika guru dituntut melek IT, melek informasi, maka kepala sekolah juga harus memenuhi syarat itu. Jangan lagi ada kepala sekolah yg tidak mampu mengetik, tidak bisa membuat Power Point, tidak punya email, dan buta internet. Jika dosen harus berselancar enam jam menembus belantara internet, kepsek setidaknya menggunakan satu jam untuk mengontrol seluruh SDM dan memastikan ketersediaan informasi sekolah untuk para stakeholdernya.

Ketiga, meluruskan kekeliruan persepsi, bahwa stagnasi bukanlah stabilitas. Stagnasi beraroma kematian sedangkan stabilitas adalah kekuatan. Keduanya memiliki ciri yang benar-benar berbeda, meski bagi sebagian orang terlihat sama. Sebuah sekolah yang dihinggapi stagnasi akan berhenti berinovasi dan SDM-nya menyerah tanpa mampu berbuat sesuatu. Banyak faktor menjadi penyebabnya. Dua faktor kunci adalah lemahnya SDM dan berhentinya regenerasi.

Keempat, tantangan Kepala Dinas Dikpora DIY beberapa waktu yang lalu, terkait periodisasi kepala sekolah dan evaluasi kinerja kepala sekokah Ma’arif. Idealnya, kepala sekolah hanya dua periode, istimewa tiga periode. Lebih dari itu, sebuah kepemimpinan akan cenderung minim inovasi dan terindikasi KKN.

Atas dasar itulah, LP Ma’arif NU DI Yogyakarta berinisiatif menyelenggarakan diklat penguatan kepala sekolah secara mandiri dengan dukungan Dinas Dikpora DIY, LPMP DIY, serta LP2KS.

Masih menurut Dr. Tadkiroatun, diklat  yang akan dilangsungkan 5-11  November 2018 tersebut diikuti 60 orang yang proses pendaftarannya berlangsung 5 hingga 31 Oktober 2018. Peserta terdiri atas 32 orang dari Maarif dan 28 dari luar Ma’arif, dari seluruh penjuru DIY; 43 SLTA dan 17 SD-SMP.

Diklat dibuka oleh Dra. Mulyati Yunipratiwi yang hadir mewakili Kepala Dikpora DIY. Dalam sambutannya, Mulyati menyampaikan bahwa diklat penguatan ini merupakan yang pertama di DIY bahkan di Indonesia. Oleh karena itu, atas nama Dikpora DIY Mulyati mengapresiasi langkah antisipatif dan inovatif yang dilakukan LP Ma’arif NU DI Yogyakarta.

Pada kesempatan itu, Kasi PNFI Dikpora DIY itu juga berpesan agar kepala sekolah yang diangkat segera didaftarkan di aplikasi PKB (Penilaian Kinerja Berkelanjutan) dan kepala sekolah yang sudah selesai segera dikeluarkan dari sistem agar sekolah tidak berstatus memiliki dua kepala sekolah.

Kepala sekolah yang sudah lulus diklat akan mendapatkan NUKS. NUKS ini nantinya akan terintegrasi dalam Dapodik. Jadi, jika sudah diberlakukan, kepemilikan NUKS ini nantinya menjadi wajib.

Lebih lanjut Mulyati menyampaikan, ada perbedaan diklat yang diselenggarakan sekarang dengan diklat-diklat terdahulu. Pada diklat kali ini, ada materi literasi digital. Hal ini penting karena segala sesuatu sekarang berbasis digital, PKB sekarang juga menggunakan aplikasi.

Apresiasi pelaksanaan sistem juga disampaikan Kasi FPMP LPMP DIY, Dra. Titi Sulistyani, M. Pd. Menurutnya, LP Ma’arif mengambil langkah cepat dan antisipatif.

Titi berharap diklat ini menjadi langkah awal dalam meningkatkan kualitas kepala sekolah di lingkungan Ma’arif DIY. Menurutnya, pelatihan ini semacam pemutihan. Para kepala sekolah belum memiliki NUKS dengan mengikuti dan lulus diklat ini bisa mendapatkan NUKS.

“LP2KS memberi kewenangan kepada LPMP untuk menyelenggarakan kegiatan ini. Sertifikat dari LP2KS, semua dipantau, modul juga dari LP2KS,” ungkap Mulyati.

Acara pembukaan yang dilangsungkan pukul 13.30 hingga 15.00 WIB itu dihadiri pula oleh Pengurus LP Ma’arif NU DIY, Sukarja, M.Pd., dan Pengurus PWNU DIY, Dr. Arif Rohman. (sab/ind/maarifnudiy.or.id)

Senin, 25 September 2017

Siswa SMP Ma’arif Imogiri Juara MHQ dan Kaligrafi

Nurul Huda dan Ona Oktaviani
Bantul–Dua siswa SMP Ma’arif Imogiri bawa pulang piala dalam lomba MHQ dan Kaligrafi tingkat Kecamatan Imogiri. Kedua siswa tersebut adalah Nurul Huda, meraih juara kedua dalam bidang MHQ serta Ona Oktaviani, meraih juara ketiga dalam bidang kaligrafi.

Lomba dilaksanakan di SD Sriharjo Imogiri, Sabtu (23/9). Selain MHQ dan Kaligrafi, juga ada sebelas cabang lain yang dilombakan. Lomba dilaksanakan atas kerja sama antara Kantor Kemenag Bantul dengan Dinas Dikpora Kabupaten Bantul.

Wakil Kepala SMP Ma’arif Imogiri, Sambudi, mengaku bangga dengan prestasi anak didiknya. Dengan berbagai keterbatasan fasilitas, mereka tetap mampu bersaing dengan sekolah lain bahkan berprestasi. (sab)

Rabu, 09 Agustus 2017

SMP Ma'arif Imogiri Siap Hadapi Akreditasi


Bantul-Masa berlaku sertifikat akreditasi SMP Ma'arif Imogiri segera berakhir tahun 2017 ini. Untuk itu, civitas akademika SMP Ma'arif Imogiri bersiap mengikuti akreditasi ulang.

"Tanggal 11-12 yang akan datang, tim asesor dari BAP S/M DIY akan datang ke SMP Ma'arif Imogiri untuk memverifikasi kondisi SMP Ma'arif Imogiri saat ini. Tim akan melaporkan ke BAP S/M DI Yogyakarta berdasarkan tinjauan di lapangan sesuai standar yang telah ditetapkan oleh BAN S/M," ungkap Sambudi, Wakil Kepala SMP Ma'arif Imogiri.

Masih menurut Sambudi, ada delapan standar yang akan dicermati oleh asesor. Kedelapan standar tersebut meliputi Kompetensi Lulusan, Isi, Proses, Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Sarana dan Prasarana, Pengelolaan, Pembiayaan Pendidikan, dan Penilaian Pendidikan. Nilai dari delapan standar itu akan dikalkulasi yang akhirnya menentukan predikat akreditasi yang akan diperoleh SMP Ma'arif Imogiri selama lima tahun kedepan.

Terkait persiapan menghadapi akreditasi, Ketua Panitia, Mulyono, menyampaikan dirinya yakin sekolahnya akan kembali mendapatkan predikat A. Menurutnya, timnya telah berjuang sebaik-baiknya menyelesaikan tuntutan delapan standar yang akan diperiksa.

"Kami sudah berusaha, semoga hasilnya akan baik dan SMP Ma'arif Imogiri kembali mendapatkan predikat A," ungkap Mulyono.

Menurut Mulyono, sedikit kendala yang dihadapi guru dan karyawan, bahwa proses akreditasi tidak mengurangi tanggung jawab GTK dalam menghadapi pembelajaran. Untuk itu, para guru dan karyawan harus berjuang keras membagi waktu antara menunaikan kewajiban harian dengan mempersiapkan akreditasi.

"Untuk itu, asas gotong royong benar-benar kami terapkan dalam proses ini. Jika ada permasalahan, guru dan karyawan akan saling membantu untuk menyelesaikan. Semoga hasilnya nanti akan maksimal," tutup Mulyono. (sab)

Selasa, 23 Mei 2017

SMP Ma’arif Imogiri Lepas Penghafal Alquran 30 Juz

Zuni Anifah
Bantul–Kepala SMP Ma’arif Imogiri melepas 28 siswanya yang telah menuntaskan kegiatan belajar-mengajara, Senin (22/5). Bersamaan dengan itu, pihak sekolah juga menggelar khataman untuk kategori Juz Amma dan Alquran.

“Hari ini kami melepas 28 siswa kelas IX yang telah menuntaskan kegiatan belajar-mengajar di SMP Ma’arif Imogiri. Selain itu, kami juga menggelar khataman sebagai apresiasi kepada para siswa yang telah mengikuti program BTAQ tiap pagi,” ungkap Kepala SMP Ma’arif Imogiri, Masruhi.

Ketika dihubungi, Masruhi menerangkan, di antara siswa yang dilepas dan mengikuti khataman, ada siswa yang telah berhasil menghafal 30 juz Alquran.

“Kendati memiliki keterbatasan input dan fasilitas, kami cukup bangga melakukan pelepasan dan khataman kali ini. Di antara siswa yang dilepas, yakni Zuni Anifah, telah berhasil menghafal 30 juz Alquran,” terang Masruhi.

“Ketika masuk di kelas sembilan, Zuni Anifah telah berhasil menghafal 25 juz. Saat pelepasan ini, Zuni telah menuntaskan 30 juz hafalannya,” lanjut pria kelahiran Brebes 60 tahun lalu itu.

Anak-anak yang bersekolah di SMP Ma’arif Imogiri memang berasal dari golongan menengah ke bawah. Bahkan, di antaranya sudah tidak berniat melanjutkan sekolah lagi.

“Sebagian siswa di sini, kami ‘jemput’ ke rumahnya dan tawarkan untuk bersekolah. Kami bahkan harus bernegosiasi dengan anak dan orang tuanya agar mereka bersedia melanjutkan sekolah,” terang Masruhi.

Perjuangan guru dan karyawan di SMP Ma’arif Imogiri menurut Masruhi luar biasa. Jika hanya ditinjau dari nilai akhir akademis, timnya memang tidak mampu mengantarkan siswa-siswinya bersaing dengan sekolah-sekolah favorit. Kendati demikian, jika ditinjau dari perkembangan para siswa, dirinya yakin hasilnya tidak kalah.

“Di sekolah favorit, siswa yang masuk memang sudah bernilai tinggi. Sementara di sekolah seperti SMP Ma’arif Imogiri, dengan keterbatasan anggaran dan fasilitas, kami harus berjuang menyemangati siswa agar mau belajar,” ujarnya. “Jadi, capaian-capaian saat ini, saya pandang sudah sangat luar biasa,” tutupnya.

Masruhi berpesan kepada guru/karyawan SMP Ma’arif Imogiri untuk tetap berjuang. Dia berharap, ke depannya, fasilitas SMP Ma’arif Imogiri dapat terus diperbaiki.

Acara pelepasan dan khataman yang dilaksanakan di halaman SMP Ma’arif Imogiri itu dilangsungkan pukul 07.00-12.00 itu juga disertai dengan pameran karya para siswa. Orang tua yang hadir bisa melihat karya-karya anak-anaknya selama sekolah di SMP Ma’arif Imogiri. Selain menghadirkan orang tua, panitia juga mengundang tokoh masyarakat dan Nahdlatul Ulama di lingkungan Imogiri. (sab)